Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Tlachihualtepetl, Piramida Terbesar di Dunia yang Telah Lama Hilang

Posted by Unknown Minggu, 22 Desember 2013 0 komentar
Salah satu fitur yang paling terlihat di kota kecil San Andres Cholula, di wilayah Puebla Meksiko, adalah sebuah gereja yang dibangun di puncak bukit setinggi 180 kaki dari atas kota.

Gereja ini bernama Iglesia de Nuestra Senora de los Remedios (Church of Our Lady of Remedies), juga dikenal sebagai Santuario de la Virgen de los Remedios (Sanctuary of the Virgin of Remedies), yang dibangun pada tahun 1594 di atas sebuah candi pra-hispanik.



Gereja ini dibangun pada masa-masa Conquistadores (penaklukan spanyol di amerika latin), menjadikannya sebagai situs yang menarik. Apalagi dibingkai dengan puncak gunung berapi aktif, seperti dalam foto dibawah ini, yang merupakan salah satu foto pariwisata paling populer di Meksiko.


Oke, sekarang kita kembali pada masa-masa penaklukan Spanyol di Amerika Latin. Sebagai penakluk, mereka meruntuhkan kuil-kuil penduduk pribumi yang mereka temukan dan membangun gereja-gereja di tempat-tempat dimana kuil-kuil itu dulunya berdiri.

Itu cara orang Spanyol menegaskan dominasinya, dan juga menegaskan dominasi agama Katolik diatas agama-agama penduduk asli.

Penduduk asli Amerika telah menghabiskan ribuan tahun untuk membangun banyak candi dan kuil, jadi ada banyak gereja yang dibangun untuk menggantikan mereka.

Banyak dari candi-candi dan kuil-kuil yang dibangun penduduk asli Amerika, yang dibangun di atas piramida batu.

Nah, gereja kecil di Cholula yang sepertinya berdiri di atas bukit, ternyata berdiri di sebuah kompleks piramida yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.


Mungkin ini adalah keajaiban terbesar pada dunia kuno yang seakan tidak akan pernah terlihat. Kita tidak bisa melihatnya karena tertutup tanah. Ini menjelaskan mengapa konstruksi besar ini sempat tidak dikenal, karena hanya terlihat sebagai sebuah gundukan tanah yang sangat tidak fotogenik.

Nama asli dari situs ini adalah "Tlachihualtepetl" (bahasa Nahuatl, yang merupakan bahasa lokal asli Amerika dari zaman suku Aztec, yang berarti "gunung buatan"). Ya, ternyata bukit ini di dalamnya terdiri dari susunan batu yang bukan alami.


Piramida ini dibangun dalam empat tahap, diperkirakan mulai dari abad ke-3 SM hingga abad ke-9 M, dan didedikasikan untuk dewa Quetzalcoatl.

Piramida ini luas dasarnya sekitar 450 m x 450 m, dan tinggi 66 m. Menurut Guinness Book of Records, Inilah piramida terbesar serta monumen terbesar yang pernah dibangun di dunia.

Dengan total volume diperkirakan lebih dari 4,45 juta m3 batu, bahkan lebih besar dari Piramida Agung Giza di Mesir yang hanya sekitar 2,5 juta m3 batu.

Namun Piramida Agung Giza lebih tinggi, karena tingginya mencapai 138,8 m. Suku Aztec percaya bahwa Xelhua lah yang membangun Piramida Besar Cholula.











Para peneliti telah menggali kembali terowongan-terowongan yang ada di dalam bukit, lebih dari delapan kilometer. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa gaya arsitektur batu dan artefak yang ditemukan di situs ini memiliki kemiripan dengan Teotihuacan.

Baca Selengkapnya ....

Peneliti Temukan Jamban Raksasa Berusia 240 Juta Tahu

Posted by Anonim Senin, 02 Desember 2013 0 komentar

Peneliti Argentina menemukan sebuah jamban raksasa kuno yang menjadi tempat binatang purba membuang kotoran mereka.


Dari penanggalan yang dilakukan peneliti, usia jamban itu diduga sekitar 240 juta tahun. Usia itu memecahkan rekor jamban kuno sebelumnya, yang lebih muda 20 juta tahun. Jamban itu bahkan lebih tua dari jamban mamalia.

Dilansir ABC.net.au, peneliti National Council of Scientific and Technical Investigation Argentina, Lucas Fiorelli, melaporkan jamban kuno ditemukan di barat laut Argentina.



Pada situs itu, peneliti menemukan 30.000 kotoran prasejarah, yang panjangnya beragam dari 0,5 hingga 35 cm. Pada beberapa titik, kotoran kuno itu bahkan menumpuk hingga 100 meter persegi.

Dalam pengujian lebih rinci, kotoran itu merupakan sisa dari keluarga Dicynodontes, reptil raksasa pemakan tumbuhan yang hidup dekat dengan masa dinosaurus awal.


"Ini merupakan bukti pertama jamban komunal mega herbivora pada binatang bertulang belakang non-mamalia. Ini mengindikasikan perilaku ini telah ada dalam kerabat jauh mamalia," tulis laporan penelitian itu.

Peneliti menduga kotoran itu memiliki beberapa fungsi penting. Di antaranya, fungsi kebersihan. Pembuangan kotoran dalam satu titik, kata peneliti bisa mencegah munculnya parasit baru. Selain itu jamban itu juga menjalankan fungsi keamanan, membatasi predator yang berliaran.

Baca Selengkapnya ....

7 Gunung Berapi Paling Mengancam

Posted by Anonim Rabu, 20 November 2013 0 komentar
Setelah Sinabung, Merapi pun meletus lagi (18 Nov 2013). Sebagai negara 'cincin berapi' memang Indonesia kerap diancam bencana erupsi. Letusan super dahsyat berabad lalu bahkan memengaruhi dunia global.

Selain Indonesia, kewasapadaan terhadap beberapa gunung berapi terus diamati. Gunung-gunung ini pernah menyebar teror mematikan, dan kini tertidur panjang. Yang dikhawatirkan, bila mereka bangun dan memuntahkan semua amarahnya. Bencana pun bakal dirasakan jutaan orang.

Gunung apa saja yang diam-diam menyimpan potensi bahaya? Berikut daftarnya sesuai versi nbcnews.


1. Vesuvius, Italia
Rasanya kisah kota Pompeii dan Herculaneum yang terkubur akibat letusan Vesuvius begitu terkenal, bahkan menjadi legenda. Ini adalah kisah nyata yang terjadi di tahun 79 M. Dan sekarang jutaan manusia bermukim kembali di sekitar Vesuvius. Para pengamat mengkhawatirkan kalau tiba-tiba Vesuvius bangun lagi dan bisa dibayangkan betapa hebat bencana yang akan terjadi.



2. Popocatpetl, Mexico
 
Tahukah Anda, Mexico City yang dihuni sekitar 18 juta jiwa hanya 64 km dari Popocatepetl. Sementara 48 km di sebelah barat, terletak kota Puebla dengan 2 juta jiwa di dalamnya. Letusan dahsyat dapat menimbulkan jutaan ton debu ke atmosfer serta banjir lahar yang akan menyapu pemukiman di sekitar Popocatepetl dengan singkat.

Aktivitas gunung tertinggi ke-2 di Amerika bagian utara ini terjadi terakhir tahun 1920 dan 1922. Ya, sudah hampir 100 tahun lalu Popocatepetl asik tertidur nyenyak. Bagaimana kalau tiba-tiba ia bangun lagi?



3. Merapi, Indonesia
 
Foto: geographyattrafalgar.blogspo
Walau banyak gunung berapi di seluruh Indonesia, namun Merapi paling populer. Bukan karena letusannya paling dahsyat melainkan populasi manusia yang begitu dekat dengan lokasi gunung ini. Bahaya lainnya yakni gas beracun yang dengan mudah menyergap kalau tak waspada.

Saat erupsi 2010 silam, banjir lahar, hujan debu sangat berbahaya. Apalagi ditambah keluarnya gas beracun yang menyulitkan evakuasi. Bahkan, saat Merapi relatif jinak, bahaya gas beracunnya tetap mengintai. Di tahun 1994 saja tercatat 60 orang mati karena menghirupnya.

Para pengamat semakin khawatir dengan kepercayaan penduduk setempat yang banyak memilih bertahan apa pun yang terjadi.



4. Nyirangongo, Congo
 
Beralih ke Afrika kita jumpai Nyirangongo, gunung berapi paling berbahaya di Congo. Yang paling ditakuti adalah aliran lava yang siap menyapu wilayah sekitarnya. Pada 2002, Nyirangongo memuntahkan lava dengan kecepatan 60 mph menuju Goma, kota dengan 500 ribu penghuninya.



5. Nevada del Ruiz, Colombia
 
Erupsi pada 13 November 1985 mengirimkan banjir lahar ke desa Chinchina dan membunuh 1.927 orang.  Kemudian banjir ke-2 memusnahkan kota Armero berikut 23.000 orang jadi korbannya. Setelah puluhan tahun berlalu, pemukiman muncul lagi dan populasi terus bertambah. Apa yang akan terjadi bila tiba-tiba Nevada del Ruiz menebar teror banjir lahar lagi?



6. Fuji, Jepang
 
 
Gunung Fuji memang jadi ikon Jepang penuh pesona. Keindahannya sangat memukau. Padahal gunung ini masih tergolong aktif. Memang tidurnya sangat panjang, terakhir meletus tahun 1707. Namun peneliti dibuat khawatir karena tiba-tiba terjadi gempa pada tahun 2000 dan 2011 lalu.

Mungkin hanya menggeliat menyambut milenium baru? Entah, tapi tak terbayangkan kerusakan yang dapat terjadi kalau Fuji meletus lagi. Masalahnya adalah Tokyo, yang dihuni 30 juta jiwa hanya 112 km dari Fuji. Nah, seperti apa kerusakan yang bakal terjadi? Menurut prediksi pemerintah pada 2004, kerugian yang ditimbulkan bisa sebesar 20 milyar dollar Amerika.



7. Mount Rainier, Amerika Serikat
 
Paman Sam pun ternyata ketar-ketir dengan Mount Rainier, gunung berapi setinggi 14,410 kaki ini (setara 4.392 meter). Memang sih sebagai latar belakang wilayah Pacific Northwest menghasilkan pemandangan yang indah (lihat foto), tapi masalahnya kalau gunung ini erupsi maka habislah ibukota Amerika Serikat. Lokasinya hanya sekitar 6 km dari pusat kota Washington DC.

Baca Selengkapnya ....

Mengapa Awan Mendung Berwarna Gelap?

Posted by Anonim Kamis, 14 November 2013 0 komentar
Awan warnanya seputih kapas. Air tak berwarna alias bening. Tapi mengapa awan mendung warnanya gelap, ya? Jawabannya karena menyerap cahaya dan tidak menyebarkannya.

Seperti kita tahu, udara di sekitar penuh dengan air dalam bentuk gas atau uap air. Nah, udara dingin naik ke atas lapisan atmosfer lebih tinggi dan menyebabkan uap air mengembun. inilah proses pembentukan awan.
Foto: inhabitat.com
Partikel-partikel di atmosfer menghamburkan cahaya dari matahari, tata surya yang gelap, dan akhirnya menghasilkan warna biru pada langit. Jadi, langit berwarna biru karena faktor tersebut. Tapi tidak demikian dengan awan, ia tidak membiaskan warna biru melainkan menyebarkan semua warna cahaya sehingga akhirnya membentuk warna putih.

Untuk lebih memahami ini coba ingat pelajaran fisika tentang prisma warna. Warna putih yang diteruskan lewat prisma tersebut menghasilkan banyak warna pelangi. Begitulah kira-kira prinsip awan, ia mengumpulkan semua warna dan menghasilkan warna putih.

Demikian pula, karena awan menyerap semua cahaya, maka begitu uap air pembentuk hujan atau salju semakin banyak berkumpul, yang dihasilkan adalah warna gelap (kelabu). Ini terjadi karena begitu tebalnya lapisan air dalam awan tersebut. Berarti, semakin gelap awan yang kita lihat, semakin tebal dan tinggi air yang ada.

Baca Selengkapnya ....

Fosil Nyamuk 46 Juta Tahun: Memang Penghisap Darah

Posted by Anonim Minggu, 20 Oktober 2013 0 komentar
Saat menggali di daerah pegunungan Montana, AS, tak sengaja tim ilmuwan dari National History Museum Smithsonian menemukan fosil nyamuk yang  terbungkus baik di dalam serpihan batu lumpur.

 
 
 
Setelah diteliti, mereka menyatakan bahwa fosil nyamuk yang ditemukan diperkirakan hidup di pertengahan Zaman Eosen, yaitu sekitar 56 sampai 33,9 juta tahun lalu. Zaman Eosen terkenal dengan periode di mana konsentrasi karbon di atmosfer sangat rendah, sehingga menyebabkan kepunahan besar di Bumi.

"Temuan ini menunjukkan bahwa nyamuk telah menghisap darah selama jutaan tahun lalu. Itu dibuktikan dengan adanya darah di dalam perut nyamuk yang masih terawat dengan baik," kata Dr Dale Greenwalt, Paleobiologist dari National History Museum Smithsonian.

Menarik, fosil nyamuk tersebut masih menyimpan darah yang dikonsumsi dari mangsanya. Sehingga menimbulkan rasa penasaran para ahli, mahluk jenis apa yang dihisap darahnya.

"Saat ini, kami belum mengetahui siapa yang menjadi mangsa nyamuk itu. Tim sedang meneliti lebih jauh zat besi yang ada di dalam di perut fosil nyamuk itu. Kami sangat penasaran nyamuk itu menghisap darah makhluk apa," ujar Greenwalt.

Hasil temuan pun kembali membuktikan bahwa molekul organik dapat diawetkan dalam waktu puluhan juta tahun.

Temuan ini telah dipublikasikan di Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Baca Selengkapnya ....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Hal aneh lucu dan kacau atau info dunia kesehatan.

Kontributor